News - Cerita Anak Muda Yogya Rela Jadi Penambal Jalan Raya

Jannet 11.41
Cerita Anak Muda Yogya Rela Jadi Penambal Jalan Raya
Pemuda Jogja saat menambal jalan rusak (foto: Markus/Sindoradio)

"Dananya murni dari patungan, setiap hari kita merelakan uang Rp1.000, tidak ada sponsor," seru Adit.

Untuk menambal lubang, pihaknya memiliki jadwal seminggu tiga kali. Namun karena jumlah lubang berkurang, saat ini menjadi seminggu sekali. Waktunya dimulai pukul 21.00 WIB, bahkan sering sampai subuh saat malam libur.

YOGYAKARTA – Memasuki musim hujan biasanya jalan di Yogyakarta banyak muncul lubang yang membahayakan pengguna kendaraan. Bahkan, sering terjadi kecelakaan disebabkan lubang di jalanan tersebut.

"Kami juga pernah dipanggil Pak Gubernur (Sri Sultan HB X) ditemukan dengan Dinas PU, kita diapresiasi," pungkasnya dengan bangga.

Bahkan tak sedikit warga yang membantu. Salah satunya pengendara mobil yang tiba-tiba berhenti dan memberikan penerangan, setelah melihat kegiatan mereka. Sang pemilk mobil pun ikut membantu menambal jalan.

"Intinya sederhana kita tidak ingin jatuh. Apalagi jalan milik kita bersama, Ya mari dijaga bersama sesuai dengan kemampuannya," tuturnya.

Ia mengakui ada berbagai cerita unik bahagia dan menegangkan. Untuk yang menyedihkan, pernah saat menambal jalan di Imogiri Barat, Bantul, warga mengepung, karena komunitas Jogja Nyah Nyoh dicurigai akan berbuat onar. Namun setelah diberi penjelasan, akhirnya warga mengerti.

Mereka bekerja mulai daerah Sleman, Kota Yogyakarta, hingga Bantul. Hanya wilayah Kulonprogo dan Gunungkidul yang selama ini belum ditambal karena jalannya masih dalam kondisi bagus.

Ketua 'Jogja Nyah Nyoh', Arditya Eka Sunu, menceritakan awal terbentuknya kelompok ini pada 2015, dan belum memiliki nama. Munculnya nama tersebut baru pada 19 Februari 2016. 'Nyah nyoh' dalam bahasa Indonesia bisa diartikan 'memberi dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan'.

Source: Okezone.com

"Prioritas kita jalan yang padat dan ramai dilalui pengendara, artinya potensi kecelakaan akibat lubang itu besar," imbuh Arditya.

"Untuk hari aktif sengaja dibatasi waktunya," kata Adit.

Sebagian besar orang yang tergabung dalam komunitas ini merupakan korban jalan berlubang. Awalnya mereka hanya mengecat di sekitar lubang dengan cat semprot warna putih. Lalu seiring perkembangan, mereka melakukan penutupan menggunakan campuran semen dan pasir.

Adit menceritakan, seluruh dana kegiatan penambalan ini bersumber dari para anggota. Para anggotanya pun beragam latar belakang, mulai dosen, arsitek, hingga warga biasa.

Seperti yang dilakukan di sekitar Jalan Raya Yogyakarta-Solo. Padahal waktu sudah cukup larut, komunitas ini baru mulai melakukan pekerjaannya menambal lubang di KM 9 Jalan Raya Yogyakarta-Solo. Memang dipilih waktu menjelang tengah malam untuk menghindari ramainya kendaraan.

"Kami ingin agar gotong royong itu tumbuh lagi, peduli dengan lingkungan sekitar," kata Arditya saat ditemui di sela menambal di Kilometer 9 Jalan Raya Yogyakarta-Solo, Kamis 12 Januari 2017 malam.

Latar belakang inilah yang mendorong sebagian kecil pemuda Yogyakarta yang tergabung dalam 'Jogja Nyah Nyoh' rela meluangkan waktu dan tenaga hingga biaya untuk membantu menambal lubang di jalanan.

"Selain itu, ada warga yang melempar uang. Ada beberapa teman yang mengejar dan mengembalikan," urai Adit.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.