™ Ini Kata Ahli Fintech Heboh Teror Order Fiktif Go-Food,

Jannet 18.29
Heboh Teror Order Fiktif Go-Food, Ini Kata Ahli Fintech
Tidak masuk akal seseorang melakukan pemesanan makanan berkali-kali dengan cepat dalam waktu dan ke satu lokasi yang sama.

Ahmad menduga pelakunya adalah mantan pacarnya berinisal A. Setelah ditelusuri, mengaku diteror order fiktif makanan via ojek online. Selanjutnya ada Petugas Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) atau Pasukan Oranye DKI Jakarta bernama Ahmad Maulana,

teman-teman Julianto turut membantu membayar tagihan karena merasa kasihan dengan para driver. Bahkan saking banyaknya order fiktif yang ditujukan ke kantor, Jakarta. Teror order Go-Food ini mulai terjadi saat ia masih bekerja di kantornya di kawasan Matraman,

Julianto sama sekali tidak pernah memesannya. Padahal, pelaku juga memesan Go-Box atas nama Julianto. Selain Go-Food, sejumlah driver Go-Jek mendapatkan order makanan sejak beberapa hari lalu yang mengatasnamakan Julianto sebagai pemesan. Seperti diberitakan sebelumnya,

karena memang ada yang melakukan pembayaran," tegasnya. Kalau dalam kasus Go-Food ini kan tidak terjadi dampak ekonomi, tergantung masing-masing kasus. "Dampak ekonomi dari fraud selalu ada, Namun tergantung pada masing-masing kasusnya. Dampak kejahatan pada sistem keuangan selalu ada.

jenis transaksi seperti ini biasanya sudah terdeteksi oleh velocity checking sehingga tidak menjadi masalah besar," ucap Izak. Secara teknis keuangan di fintech, jadi belum dimasukkan parameternya. "Tapi mungkin di Go-Food karena kasusnya masih baru,

Izak memperkirakan velocity checking pun sudah dijalankan. Sementara pada Go-Jek, seluruh perbankan sudah menerapkan velocity checking sebagai bagian dari sistem analisis kejahatan. Menurutnya,

Jadi harus diimplementasikan velocity checking yang baik di analisa transaksi," tambah Izak. tapi di follow-up ke konsumen dengan cara menghubunginya untuk menanyakan transaksi tersebut. "Bukan berarti di blok,

biasanya sistem langsung raise alarm bahwa ada kemungkinan fraud," jelasnya. Kalau seseorang melakukan transaksi 10 kali dalam waktu 30 menit atau pesan makanan berulang kali dalam waktu sehari ke tempat yang sama, "Secara teknis di IT bisa dicek.

dan mencegah adanya potensi kejahatan yang datang dari pesanan bertubi-tubi tersebut. mengetahui, pihak Go-Jek dapat mendeteksi, Dengan velocity checking ini, tidak masuk akal seseorang melakukan pemesanan makanan berkali-kali dengan cepat dalam waktu dan ke satu lokasi yang sama. Lebih jauh Izak menilai,

Minggu (9/7/2017). Jakarta, kasus seperti ini biasanya ditangani secara teknis dengan melakukan 'velocity checking' atau pengecekan terhadap kecepatan transaksi," kata Izak saat dihubungi Liputan6.com, "Dalam sistem keuangan,

melainkan karena kegiatan sosial. seseorang melakukan kejahatan bukan dari karena alasan teknis, Pengertiannya, jenis fraud seperti di Go-Food ini biasa disebut social fraud. Izak Jenie menjelaskan, Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia,

dan adakah dampak ekonomi atas fraud (kejahatan) di sistem aplikasi pemesanan makanan secara online tersebut? Sebenarnya mengapa hal ini bisa terjadi, Laporan order fiktif Go-Food atas nama korban Julianto Sudrajat dan Ahmad Maulana yang diduga karena kasus asmara semakin ramai diperbincangkan warganet di media sosial.


Source: Liputan6.com

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.